Blog yang berisi dengan Curhatan yang diselingi dengan Dakwah. Karena Penulis Blog ini merupakan orang yang memiliki latar belakang seorang Da'i

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 29 April 2017

Puisi Buat Calon Istriku

Aku adalah bintang terang
Melintas diantara ribuan cahaya
Aku adalah matahari
Hangatkan jiwa yang beku
Andai kau tau
Tubuhku disiram kasih sayang
Ku bagi hangatnya
Lihat aku…
Bahasa hatiku terdengar merdu
Senandung berirama
Terdengar dari puncak bahagia

Persembahan hati satu dari kesetiaan diri
Dituang dalam cawan cinta
Diteguk para bidadari
Bila kau teguk isi dari cawan itu
Maka mereka menuntutmu ke taman bunga
Aku disini, ada untukmu
Raih pundakku, kau akan rasakan betapa aku sayang kamu
Tatap mataku, lihatlah didalamnya terdapat cinta

Ya Allah, andai Engkau berkenan, limpahkan kepada kami,
cinta yang menjadikan pengikat rindu antara Rasulullah dan Khadijah Al-Qubro,
yang Engkau jadikan mata air kasih sayang antara Ali, RA dan Fatimah Az-Zahra,

Ya Allah, andai hal itu layak bagi kami, maka cukuplah doa kami dengan ridho-Mu
untuk jadikan kami sebagai suami istri yang saling mencintai dikala dekat,
saling menjaga kehormatan dikala jauh,
saling mengingatkan dikala senang,
saling menyempurnakan dalam ibadah,
saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan

Ya Allah sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan pernikahan ini
sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti cinta kami kepada sunah Rasul-Mu

Ya Allah…
Aku tidak meminta orang yang sempurna,
namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya menjadi sempurna di mata-Mu

Seorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Ya Allah…
Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
Terima kasih Engkau telah mempertemukan aku dengannya
Terima kasih untuk saat-saat indah yang dapat kami nikmati bersama
Terima kasih untuk setiap pertemuan yang dapat kami lalui bersama

Sucikan hatiku Ya Allah,
sehingga aku dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidupku
Semoga Engkau ridhoi kami untuk bersatu mengarungi sisa umur kami

Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku
pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna
Share:

Jumat, 14 April 2017

FENOMENA HARI INI TELAH TERTULIS DI DALAM AL-QUR'AN LEBIH DARI 14 ABAD SILAM

Tatkala seorang calon pemimpin non muslim menyatakan memiliki  program kerja untuk memberangkatkan umrah umat islam di provinsi X, membangun Masjid yg besar dan juga Pesantren, ....

Masya Allah, ternyata Allah SWT sudah menyiapkan jawabanNya dan perintahNya untuk umat Islam bagaimana harus bersikap dan melangkah terhadap program kerja calon pemimpin non muslim ini.

Berikut firman Allah Ta'ala:

QS. At Taubah ayat 7-10

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًۢا بَيْنَ  الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُ  ؕ   وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَاۤ اِلَّا الْحُسْنٰى  ؕ  وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ  لَـكٰذِبُوْنَ

"Dan (di antara orang-orang kafir itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, "Kami hanya menghendaki kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya)."
(QS. At-Taubah: Ayat 107)

Allah SWT berfirman:

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًا   ؕ  لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى  مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ  ؕ  فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ  يَّتَطَهَّرُوْا   ؕ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

"Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih."
(QS. At-Taubah: Ayat 108)

Allah SWT berfirman:

اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَـنَّمَ  ؕ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. At-Taubah: Ayat 109)

Allah SWT berfirman:

لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِيْ بَنَوْا  رِيْبَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلَّاۤ اَنْ تَقَطَّعَ قُلُوْبُهُمْ  ؕ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

"Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."
(QS. At-Taubah: Ayat 110)

Sungguh Maha benar Allah SWT dengan segala firmanNya

Semoga menjadi pencerahan  bagi kita semua

Muhammad Sarno Musril
Share:

Islam Menjaga Kehidupan Manusia

Keseluruhan kandungan agama Islam adalah kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia. Islam merupakan agama yang mudah, agama toleransi, agama keadilan dan persamaan, agama penuh kelembutan, cinta, kasih sayang dan persaudaraan. Islam adalah agama yang mengajarkan ilmu dan amal, serta menunjukkan kepada jalan yang lurus.

Islam adalah agama yang sempurna dan universal, agama kejujuran dan amanah, agama kemuliaan dan kekuatan. Islam dibangun di atas dasar tauhid, sedangkan ruhnya adalah keikhlasan, serta syi’arnya adalah toleransi dan persaudaraan sesama Manusia.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan pada setiap kebaikan, serta sebaliknya melarang dari setiap keburukan. Setiap perintah agama Islam pasti mengandung manfaat dan kebaikan, dan sebaliknya setiap larangan agama Islam pasti mengandung kerugian dan kejelekan. Oleh karena itu setiap perintah dan larangan Islam termasuk di antara keindahannya.

Syariat Islam ditetapkan untuk menjaga dan memelihara lima hal penting dan asasi, yaitu: agama, jiwa, keturunan, akal dan harta. Semua itu merupakan merupakan lima perkara mendesak pada kehidupan manusia (Adh-Dharuriyat al-Khamsu). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan syari’at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.

Salah satu bukti yang menunjukkan ketinggian Islam adalah disyari’atkan nya hukuman (hudud) terhadap pelanggar pidana dalam kasus-kasus tertentu. Terutama dalam kejahatan yang mengakibatkan kerugian pihak lain baik materi, moral maupun jiwa. Oleh karena itu Islam sangat ketat dan tegas di dalam melindungi ummat, baik yang berkaitan dengan jiwa, harta, kehormatan, akal dan lain sebagainya.

Di antara penjagaan Islam terhadap kaum muslimin dan manusia pada umumnya yang dengannya akan tercapai keamanan, kedamaian dan ketenteraman umum adalah sebagai berikut:

Pertama, Penjagaan Islam Terhadap Agama

Ini merupakan hal yang terpenting dan berada pada urutan tertinggi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. [Adz-Dzâriyat [51]: 56].

Demikian tujuan hakiki dari penciptaan makhluk. Untuk mencapai tujuan inilah, maka para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Sebagaimana firman-Nya.

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

Artinya: “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu”. [An-Nisâ [4]: 165].

Kedua, Penjagaan Islam Terhadap Jiwa (hifdzun nafsi)

Islam dengan tegas mengharamkan pembunuhan yaitu menumpahkan darah kaum muslimin, orang kafir yang hidup berdampingan dengan kaum muslimin (ahli dzimmah) serta darah orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan ummat Islam dengan persyaratan tertentu (mu’ahid).

Bagi yang menumpahkan darah kaum muslimin dengan sengaja, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam dengan ancaman yang sangat keras dalam firman-Nya:

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنً۬ا مُّتَعَمِّدً۬ا فَجَزَآؤُهُ ۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدً۬ا فِيہَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ ۥ وَأَعَدَّ لَهُ ۥ عَذَابًا عَظِيمً۬ا

Artinya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93).

مِنۡ أَجۡلِ ذَٲلِكَ ڪَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ أَنَّهُ ۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَڪَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعً۬ا وَ أَحۡيَاهَا فَڪَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّا جَمِيعً۬ا‌ۚ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَـٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرً۬ا مِّنۡهُم بَعۡدَ ذَٲلِكَ فِى ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ

Artinya: “Karena itu Kami tetapkan [suatu hukum] bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu [membunuh] orang lain[1] atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.[2] Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan [membawa] keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu, sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maidah [5]: 32).

Maka pembunuhan adalah salah satu dosa terbesar dari dosa-dosa besar (kabair).

Ketiga, Penjagaan Islam Terhadap Akal

Sarana untuk menjaga akal ialah ilmu. Kalimat wahyu pertama kali yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyentuh telinga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah kalimat iqra’ (bacalah!), setelah itu kalimat:

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “(Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. [Q.S. Al-‘Alaq [96]: 5]

Karena membaca merupakan jalan mendapatkan ilmu, meskipun bukan jalan satu-satunya, akan tetapi dia merupakan jalan terpenting, yang itu diperoleh melalui penggunaan akal manusia.

Dalam nash Al-Qur‘an yang lain, Allah berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya: “(dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” [Q.S. Thaha [20]: 114].

Akan tetapi ilmu ini wajib diiringi dengan amal perbuatan. Ilmu bukan sekedar untuk diketahui, namun dengan ilmu agar bertakwa, beramal shalih, serta menjauhan diri dari perbuatan maksiat dengan landasan takwa kepada Allah Azza wa Jalla .

Karena itu, kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Sebagai bentuk penjagaan terhadap akal, Islam mengharamkan miras (khamer) dan narkoba dengan berbagai jenisnya, seperti ganja, heroin, kokain, opium,ekstasi dan sebagainya.

Allah subhanahu wata’ala mengharamkan khamer karena di dalamnya terkumpul berbagai kerusakan, dapat menghancurkan kepribadian, membunuh akal serta memusnahkan harta dengan tanpa guna.

Dan bahwasanya, untuk menjaga kebaikan akal, maka syari’at Islam mengharamkan semua yang bisa merusaknya, baik yang maknawi (abstrak) seperti perjudian, nyanyian, memandang sesuatu yang diharamkan, maupun yang bersifat fisik seperti khamr, narkoba serta memberikan sanksi kepada yang melakukannya.

Keempat, Penjagaan Islam Terhadap Harta

Islam menjaga harta, yakni sesuatu yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Artinya: “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” [QS An-Nisâ [4 ]: 5].

Maksudnya, kemapanan keberadaan manusia ialah dengan harta. Oleh karenanya terdapat perintah mengeluarkan zakat, shadaqah. Dan zakat merupakan hak Allah Azza wa Jalla . Sehingga orang yang berhak menerimanya terjaga dan harta yang mengeluarkannya juga menjadi bersih dan suci.

Untuk menjaga harta, maka Islam mengharamkan segala bentuk pencurian dan penjarahan, yaitu mengambil harta orang lain tanpa sepengetahuan dan kerelaannya. Mencuri juga termasuk dosa terbesar dari dosa-dosa besar, sehingga pelakunya diancam dengan hukuman yang sangat buruk yaitu potong tangan.

Dengan ditegakkannya hukuman ini maka harta orang akan terjaga, sebab seseorang yang akan mengambil harta orang lain akan berpikir panjang, karena tangannya akan menjadi taruhan. Maka dengan demikian seluruh orang akan merasa aman terhadap harta miliknya, tidak ada rasa takut kemalingan atau dirampok dan sebagainya.

Dalam syari’at Allah yang bijak ini, juga terdapat larangan melakukan perbuatan tabdzir (pemborosan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِوَ كَفُورًا

Artinya: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya”. [Al-Isrâ : 26-27]

Di antara cara dalam pemeliharaan harta ialah: Islam mewajibkan beramal dan berusaha (bekerja) dengan yang halal dan thayyib, Islam menganjurkan bershadaqah, memperbolehkan jual beli dan hutang-piutang, Islam mengharamkan perbuatan zhalim terhadap harta orang lain dan wajib menggantinya serta Kewajiban menjaga harta dan tidak menyia-nyiakannya.

Kelima, Penjagaan Islam terhadap Nasab (Keturunan)

Sebagai penjagaan terhadap nasab maka Islam mengharamkan perzinaan dan segala wasilah (sarana) yang mengantarkan kepada perbuatan tersebut seperti berbicara, melihat dan mendengarkan hal-hal yang haram yang memicu terjadinya perbuatan zina.

Perzinaan, prostitusi, selain akan mendatangkan murka Allah, juga memiliki dampak kerusakan yang sangat besar, seperti munculnya penyakit-penyakit ganas, ternodainya kehormatan dan harga diri seseorang, tercampurnya nasab dan keturunan secara tidak jelas, sehingga seorang anak dinasabkan kepada bukan ayahnya dan mewarisi dari selain kerabatnya. Dan banyak lagi kerusakan dan kezhaliman yang timbul akibat perzinaan ini, dan Allah Maha Tahu atas semua itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17]:32).

Larangan Allah subhanahu wata’ala untuk tidak mendekati zina lebih keras dan mendalam daripada larangan untuk melakukannya, yakni jangan sampai seseorang berada di sekitarnya dan jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan pada perzinaan tersebut. Atau dengan bahasa lain, jika hanya sekedar mendekati saja diharamkan, maka melakukannya sangat lebih haram lagi.

Bentuk penjagaan agar manusia menjauhkan manusia dari perbuatan zina, maka syari’at menganjurna pernikahan.

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

Artinya: “Maka kawinilah wanita wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat”[QS An-Nisâ [4]: 3]

Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam juga bersabda :

مِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْ

Artinya: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaklah dia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia melakukan puasa (sunat). Karena sesungguhnya puasa itu menjadi obat bagi dia”.

Demikian beberapa nash dari Al-Qur‘an dan as- Sunnah, yang berkaitan dengan Islam menjaga dan memelihara kehidupan manusia.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan kepada kaum Muslimin lainnya untuk memahaminya, sehingga semakin menambah dan mengokohkan keyakinan terhadap kebenaran din, agama yang haq ini. Amin.

Muhammad Sarno Bajoe
Share:

Kamis, 13 April 2017

LANGKAH-LANGKAH BERPIKIR KRITIS TERHADAP SUATU HAL

Baiklah kita sudah mengetahui apa itu berpikir kritis, dan perbedaanya dengan berpikir sinis setelah di jelaskan oleh saudara kita Azzayd Elkhairy pada tanggal 12 April 2017 kemarin.
maka dari itu langsung saja kita masuk pada inti pembahasan kita kali ini yaitu: langkah-langkah berpikir kritis terhadap suatu hal.

dibawah ini adalah beberapa langkah yang dapat kita gunakan untuk mengkritisi suatu hal yang menurut asumsi kita tidak benar, tetapi dalam hal ini kita mengkritisi suatu hal hanya untuk membuatnya menjadi lebih baik bukan untuk menjatuhkanya, atau dalam artian lain kita memperbaiki suatu hal yang kurang benar.

langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengenali masalah, langkah ini sangat penting karena akan menentukan kemampuan seseorang dalam mengkritisi sebuah masalah,
  2. menemukan cara-cara untuk menangani masalah tersebut, 
  3. mengumpulkan dan menyusun informasi untuk menangani masalah,
  4. mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan, langkah ini penting untuk mendeteksi motif-motif tersembunyi dalam suatu permasalahan, kasus, asumsi, atau tulisan,
  5. Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan,
  6. mencermati adanya hubungan logis antara masalah dan jawaban-jawaban yang diberikan,
  7. Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan.
Untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengkritisi suatu masalah, marilah kita terapkan kepada sebuah contoh,

contoh yang akan kita gunakan adalah pencitraan seorang pejabat negeri sebelum dipilih menjadi pejabat. dia melakukan berbagai pencitraan diri agar terlihat sederhana, peduli rakyat, tidak korupsi, menjabat bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk kemaslahatan rakyat.
langkah pertama yaitu kita harus mengenali maslah, dalam kasus ini kita simpulkan bahwa permasalahanya adalah pembohongan publik melalui pencitraan. 

langkah yang kedua, yaitu menemukan cara-cara untuk menangani masalah tersebut. untuk menangani pembohongan publik ini kita dapat menggunakan salah satu cara yang tepat yaitu; Bahwa masyarakat harus dididik untuk bersikap kritis terhadap setiap pemberitaan. Ada yang dengan lugu menjawab, “Masyarakat harus belajar critical thinking”. Poin yang diangkat sebenarnya adalah pentingnya mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berbagai upaya pembohongan publik, termasuk mencitrakan diri sebagai orang baik dan bermoral, padahal kenyataannya tidak demikian.

langkah yang ketiga, yaitu mengumpulkan dan menyusun informasi untuk menangani masalah, untuk menyelesaikan langkah ketiga kita harus mengumpulkan/menyusun informasi yang mengarah kepada solusi pada poin kedua yaitu:
  • Media massa Indonesia suka memanfaatkan kelemahan pembaca (sulit bersikap kritis) jika membaca atau menyimak pemberitaan yang menonjolkan sisi kemanusiaan atau sisi human interests.
  • Pejabat publik memiliki agenda tersembunyi (“rencana” korupsi) tetapi supaya masyarakat tidak mencurigainya, dia terlebih dahulu menampilkan diri sebagai orang baik (secara moral: sopan, lugu, peduli pada kepentingan publik, dsb).
  • Orang cerdas secara intelektual ternyata tidak menjadi jaminan bahwa dia akan bersikap baik secara moral.
berlanjut ke langkah yang keempat, yaitu mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan. langkah keempat ini dapat dijawab dengan mengajukan pertanyaan seperti ini “Apakah media pemberita berangkat dari motivasi murni untuk melakukan pembohongan publik?” dapat kita ketahui bahwa pemberitaan pejabat tersebut hanya untuk melakukan pembohongan publik.

langkah yang kelima, yaitu Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan, kita bisa menilai bahwa yang dilakukan oleh pejabat tersebut pembohongan publik sebagai pencitraan diri jika kita lihat dari kenyataan yang dilakukan oleh pejabat tersebut memang tidak sesuai yang diberitakan dan digembar-gemborkan.

langkah keenam, mencermati adanya hubungan logis antara masalah dan jawaban-jawaban yang diberikan. Di sini kita bisa mengulang sekali lagi masalah yang sudah dirumuskan di atas, yakni “Apakah dapat dibenarkan atau tidak jika seorang pejabat publik mencitrakan dirinya sebagai orang baik, padahal motifnya adalah ingin menutupi keburukan perilakunya dalam melakukan korupsi?”
kita sama-sama tahu bahwa hal ini sangat tidak dibenarkan

langkah yang terakhir yaitu Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan. untuk menarik kesimpulan disini silahkan pembaca memberikan kesimpulanya masing-masing, saya yakin jika para pembaca mengikuti langkah-langkah diatas maka pasti akan dapat menyimpulkan kritikan yang tepat untuk permasalaha tersebut.

saya kira demikian dari saya dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, dan kita bisa menggunakanya untuk mengkritisi suatu hal yang memang pada dasarnya adalah salah.
Share:

Rabu, 12 April 2017

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MANUSIA PADA FASE DEWASA AWAL


Fase Dewasa awal adalah peralihan dari fase remaja menuju fase dewasa, pada fase ini indetitas diri mulai didapat sedikit demi sedikit sesuai dengan umur dan mental, yang mana kita sama-sama ketahui pada fase sebelumnya yaitu fase remaja yang mana seseorang mulai mencari jati diri yang sesungguhnya.

fase ini juga merupakan peralihan dari fase ketergantungan kepada fase mandiri, mulai dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri, dan pandangan akan masa depan.

dan seseorang yang memasuki fase ini memiliki tugas untuk memebangun sebuah keluarga/menikah, mengelola rumah tangga, mengasuh anak, memikul sebuah tanggung jawab sebagai warga negara, bersosialisasi dengan kelompok-kelompok sosial tertentu, dan melakukan sebuah pekerjaan,

seseorang yang memasuki fase ini biasanya dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemsmpuan reproduktif.

ciri-ciri seseorang yang memasuki fase dewasa awal diantaranya:

  1. berorientasi pada tugas, yaitu berorientasi pada tugas yang dikerjakanya dan tidak condong pada perasaan diri sendiri dan bukan untuk kepentingan pribadi.
  2. tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efisien, melihat tujuan-tujuan hidupnya secara jelas dan tahu mana hal-hal yang pantas yang harus dikerjakanya untuk mendapatkan tujaunya tersebut.
  3. mengendalikan perasaan pribadi, dapat mengendalikan perasaan diri sendiri, tidak dikendalikan oleh nafsu, sehingga ketika mengambil keputusan dia tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga memikirkan perasaan orng lain.
  4. menerima kritik dan saran, tahu bahwa dirinya tidak selalu benar dan dapat menerima kritik maupun saran dari orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
  5. pertanggung jawaban terhadap usaha-usah pribadi, tahu bahwa setiap usahanya tidak dapat dinilainya secara sungguh-sungguh sehingga dia membutuhkan bsntuan orang lain tetapi tetap bertanggung jawab sendiri terhdap seluruh usahanya.
  6. penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi yang baru, fleksibel dan dapat menempatkan diri dalam situasi-situasi baru yang dijumpainya.
  7. fase dewasa awal merupakan kelanjutan dari masa remaja dan merupakan fase penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru, dan harapan-harapan sosial yang baru. dan beberapa sifat fase remaja masih ada dalam fase ini.
Share:

Selasa, 11 April 2017

MEMBANGUN INDONESIA MELALUI DAKWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Apakabar hari ini saudara ku..

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Keadaan ini tentu bukan terjadi dalam waktu sesaat saja, melainkan memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam sejarahnya, Islam mengukir sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia itu sendiri. Jatuh bangun bangsa Indonesia dan perjuangannya melawan penjajah merupakan sejarah perjuangan umat Islam.


Tapi saat ini Islam sedang di goncang dengan berbagai macam problem,  hingga pedoman umat islam pun dihina oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab...
Akanakah orang islam hanya berdiam saja melihat itu semua?

  Tidak...... !!!!!
Dakwah merupakan salah satu tujuan hidup umat Nabi Muhammad,  karna Dakwah adalah pekerjaan yang mulia...

عش كريما أو مت شهيدا
"Hidup mulia atau mati syahid "

Hidup dalam berdakwah memang banyak rintangan, tapi kita harus menyikapi nya dengan kesabaran
Penderitaan dalam berdakwah kita ini tidak sama dengan penderitaan Berdakwah Nabi dan para Sahabatnya..
Tapi semua itu mereka lakukan demi Kejayaan Islam..

Salam Dakwah Untuk Kita Semua

#SahabatMu
#Sahabat_Muslim_Nusantara
#Membangun_Indonesia_Melalui_Dakwah
#DariKitaUntukMereka

*Muhammad Sarno Bajoe
Share:

INDAHNYA SALING MEMAAFKAN



Betapa mulianya “Memaafkan“, sesungguhnya menaruh dendam terhadap kesalahan seseorang itu hal yang membebankan hati.

memang memaafkan itu tak semudah apa yang kita ucapkan, tapi cobalah berfikir Allah saja maha pengampun, kenapa kita tidak bisa memaafkan.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“…dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim. “(QS Asy Syura 40)

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
“…dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun, 64:14)

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala juga :
“…dan bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di saat lapang dan susah (sempit) dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan yang berbuat kesalahan kepadanya dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran 133 dan 134)

Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam bersabda :
“Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (Hadits riyawat Bukhari dan Muslim)

Mudah-mudahan renungan ini bisa mengingatkan kita semua.
Share:

Sabtu, 08 April 2017

Surat terbuka untuk para istri (bagian 3): KITA PERLU BELAJAR DAN TERUS BELAJAR

Para istri yang semoga senantiasa dirahmati Allah…

Ilmu laksana cahaya. Orang yang tidak memiliki ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak mengetahui jalan manakah yang seharusnya ditempuh, juga tidak mengerti langkah apa yang diambil tatkala menghadapi masalah. Karena itulah kebutuhan kita terhadap ilmu melebihi kebutuhan kita akan makan dan minum.

Kebaikan hidup dunia dan akhirat hanya dapat diraih, salah satunya dengan ilmu agama. Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam menjelaskan,

“مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ”.

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Allah akan jadikan ia paham agamanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Demikian pula halnya kesuksesan dalam rumah tangga, tidak akan bisa diraih tanpa ilmu. Karena itu, jangan pernah berangan-angan bisa menjadi istri yang sukses, apabila  kita tidak mau belajar.

Masih banyak yang harus dipelajari, berapapun usia pernikahan kita. Kita perlu mempelajari bagaimana tuntunan agama berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Apa saja kewajiban yang harus dilaksanakan dan apa saja yang harus dihindarkan. Kita harus belajar bagaimana cara bermuamalah yang benar dengan suami, anak dan semua orang yang hidup bersama kita.

Alhamdulillah, sekarang telah banyak saran yang tersedia. Sudah banyak beredar buku-buku bimbingan hidup berumah tangga, majalah, kaset, cd serta vcd ceramah keagamaan dan lain sebagainya. Majlis taklim juga marak. Jangan pernah merasa malas menghadiri majlis penuh berkah itu, guna mendengarkan untaian nasehat nan berharga.

Bukalah wawasan berfikir dengan bergaul bersama teman-teman yang salihah. Pilihlah teman yang mendukung kita dalam menjalankan ajaran agama. Karena dari kawan yang salihah itu kita dapat mengaca. Ingat kita tak boleh ‘kuper’ (kurang pergaulan), tapi kita juga tak boleh jadi ‘koper’ (korban pergaulan)!

Share:

Surat terbuka untuk para istri (bagian 2): RUMAH TANGGA ADALAH AMANAH

Para istri yang mulia…

Di satu sisi rumah tangga adalah nikmat. Namun di sisi lain rumah tangga merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus dipikul sebaik-baiknya. Karena hal itu akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,


“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”.


“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Pemerintah merupakan penanggungjawab dan ia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak penanggungjawab atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang itu. Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.

Marilah kita jaga amanah ini semaksimal mungkin, sebab orang yang memiliki karakteristik tersebut dijanjikan kelak akan mewarisi surga Firdaus. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ . الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya. Serta orang-orang yang menjaga shalatnya. Mereka itulah para pewaris. Yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya”.  QS. Al-Mu’minun: 8-11.

Sekecil apapun tugas dan tanggungjawab, bila disikapi dengan keluh kesah dan perasaan tidak ikhlas, niscaya akan terasa berat. Sebaliknya seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh kerelaan dan keikhlasan akan terasa ringan.


Diringkas dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, penerbit Pustaka Darul Ilmi, Bogor (hal. 23-26).

Share:

Senin, 03 April 2017

surat terbuka untuk para istri (bagian 1) : RUMAH TANGGA ADALAH LADANG KEBAIKAN

sumber: Google

Rumah tangga merupakan perkara yang sangat pokok bagi kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah shallallahu’alahihiwasallam menyatakan bahwa seorang yang telah berumah tangga, berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Kata beliau,


“إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي”.


“Apabila seorang hamba menikah berarti separuh agamanya telah sempurna. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam menjaga setengah yang tersisa”. HR. Al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.

Pernikahan merupakan anugerah dan nikmat yang amat besar bagi umat manusia. Dalam al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan bahwa rumah tangga akan mendatangkan ketentraman dan kasih sayang.


“وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ”.


Artinya: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kalian cenderung serta merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. QS. Ar-Rum: 21.

Namun, sebagai manusia, acapkali kita lalai. Kadangkala baru dapat merasakan besarnya sebuah nikmat, justru setelah anugerah tersebut dicabut dari kita.

Suami dan anak yang Allah anugerahkan kepadamu wahai para istri, adalah sebuah nikmat yang tak terperikan. Maka jangan sampai Allah mencabut nikmat tersebut karena Anda lalai menunaikan kewajiban mensyukurinya.

“(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, tetapi jika kalian kufur (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat”. QS. Ibrahim:7.

Para istri yang kami hormati…

Suamimu adalah ladang yang subur untuk meraih surga Allah ta’ala. Maka manfaatkanlah ladang itu sebaik-baiknya untuk bercocok tanam; sehingga engkau dapat memetik hasilnya kelak di akhirat.

Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.


“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.

Dikisahkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah engkau memiliki suami?”. “Ya” jawabnya. “Bagaimana sikapmu padanya?” sambung beliau. “Aku selalu melayaninya kecuali dalam hal yang tidak kumampui” jawabnya. Beliau bersabda,

“انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ؛ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ”.


“Perhatikan baik-baik bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena ia adalah surgamu atau nerakamu!”. HR. Ahmad dari Hushain bin Mihshan dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.

Juga anak-anak kita merupakan ladang amal yang sangat istimewa. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.


“Jika seorang manusia mati, maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang selalu mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.


Diringkas dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, penerbit Pustaka Darul Ilmi, Bogor (hal. 1-20).

Share:

Minggu, 02 April 2017

DOSA-DOSA YANG YANG DISEGERAKAN AZABNYA

Hasil gambar untuk azab
Sumber: Google

Sesungguhnya perbuatan dosa dapat mematikan hati dan melemahkan jiwa, hal ini disebabkan jika seorang hamba berbuat dosa maka akan tercipta noktah hitam yang melekat di hatinya, jika bertambah dosanya, bertambah pula noktah hitam di hatinya, dan tidaklah seorang hamba membiasakan dosa, kecuali hatinya menjadi hitam pekat, sehingga cahaya kebenaran sulit menembus dan menerangi hatinya.

Akan tetapi dosa itu memiliki tingkatan yang berbeda-beda, ada yang ditangguhkan balasannya pada hari kiamat dan ada pula yang disegerakan di dunia sebelum di akhirat, maka pada edisi kali ini, akan kami paparkan untuk para pembaca, di antara dosa-dosa yang disegerakan balasannya di dunia sebelum di akhirat, supaya kita -kaum muslimin- dapat terhindar dan tidak terjerumus ke dalamnya. 

1.  Rakus dan tamak terhadap dunia
Berlebihan dalam mengejar dunia dapat menyeret seseorang dalam kebinasaan dan kesedihan, Allahpun menyediakan untuknya dua balasan yang langsung diberikanya di dunia,
a. Alloh cerai-beraikan urusannya, dan
b. Alloh jadikan dia terpuruk dalam kefakiran dan terputus dari sifat qona’ah, hal ini sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
"Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, maka Alloh akan jadikan kekayaan ada dalam hatinya, Alloh himpun kekuatannya, dan dunia akan menghampirinya, sedang ia tidak menginginkannya, dan (sebaliknya) barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Alloh jadikan kefakiran ada di depan matanya, Alloh cerai beraikan urusannya dan dunia tidak menghampirinya kecuali apa yang sudah Alloh takdirkan untuknya." (HR. at-Tirmidzi : 2465 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah L 949)

2.  Dzolim dan Durhaka kepada orang tua
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
"Ada dua pintu (amalan) yang disegerakan balasannya di dunia; kedzoliman dan durhaka (pada orang tua)." (HR. Hakim dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah : 1120)

Hal ini dikarenakan terkabulnya doa orang tua, apalagi ketika orang tua terdzolimi, kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Alloh, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian Alloh Ta’ala mengabulkannya .. Maka berhati-hatilah wahai saudaraku dari berbuat dzolim dan durhaka kepada kedua orang tua!

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
"Tiga doa yang tidak tertolak : doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa orang yang terdzolimi." (HR. al-Baihaqi dalam Sunan Kubro : 6185 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah : 1797)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
"Takutlah terhadap doa orang yang terdzolimi, karena ia akan terbang di atas awan, kemudian Alloh berkata : ‘Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku pasti menolongmu meskipun setelah berlalunya waktu’." (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 117)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
"Takutlah terhadap doa orang yang terdzolimi, karena ia akan terbang menuju langit." (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 118)

Hal ini juga menunjukkan betapa besarnya hak kedua orang tua kita, sampai-sampai Alloh meletakkan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua setelah kewajiban menyembah kepadaNya, Alloh Ta’ala berfirman : "Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu." (QS. an-Nisa’ : 36)

 3.  Meninggalkan dakwah (amar ma’ruf dan nahi mungkar).
Mungkin ini adalah salah satu alasan saya membuat blog ini,
Dakwah merupakan perkara penting yang harus ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, karena jika tiang dakwah ini tumbang maka hancurlah masyarakat, tersebarlah maksiat, dan disaat itulah murka Alloh akan menimpa.
Berikut ini penulis cantumkan hadits yang memberikan perumpamaan yang bagus tentang akibat meninggalkan dakwah, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
"Perumpamaan orang yang melaksanakan amar ma’ruf dan orang tidak melakukannya ibarat suatu kaum yang naik sebuah kapal kemudian sebagian ada yang di atas dan sebagian yang lain ada di bawah, kemudian orang yang berada di bawah apabila ingin mengambil air maka mereka melewati orang-orang yang ada di atasnya dan otomatis mengganggunya, maka (orang-orang yang ada di bawah) berkata : seandainya kita lubangi saja perahu ini niscaya kita bisa mengambil air dengan mudah tanpa mengganggu orang yang ada di atas kita, maka jika mereka biarkan melaksanakan apa yang mereka inginkan niscaya mereka semua akan tenggelam binasa, dan apabila mereka dicegah maka mereka semua akan selamat." (HR. Al-Bukhori : 2361)

Demikianlah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan tentang bahaya meninggalkan amar ma’ruf, yang mana Alloh Ta’ala akan menyegerakan akibat menginggalkan dakwah, sebagaimana yang dituturkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
"Sesungguhnya jika manusia melihat orang yang berbuat dzolim kemudian tidak mencegahnya, maka dikhawatirkan Alloh akan mengirim adzab kepada mereka secara merata." (Diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya : 4340, dan dishohihkan al-Albani dalam asy-Shohihah : 1564).
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
"Demi Alloh yang jiwaku ada di tanganNya, hendaklah kalian benar-benar mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau jika tidak, hampir dipastikan Alloh akan mengiirm adzab untuk kalian." (Diriwayatkan at-Tarmidzi dalam Sunannya : 2169, dan Al-Albani mengatakan, “hasan lighorihi”, dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib : 2313)

4.  Sombong
Sombong merupakan perangai tercela, yang mengundang murka Alloh Ta’ala, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
 "Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, ’Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu, maka barangsiapa menyaingiKu dalam satu di antara dua hal tersebut, Aku akan mengadzabnya’." (HR. Muslim)
Tidak hanya sampai di sini, bahkan Allahpun akan menyegerakan balasan bagi orang yang berbuat sombong dengan menjadikannya dalam kehinaan, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah seorang hamba kecuali di atas kepalanya ada hakamah (kinayah untuk kehormatan atau kedudukan) yang berada di tangan malaikat, maka jika hamba tadi rendah hati (tawadhu’) maka dikatakan kepada malaikat : angkatlah kedudukannya dan jika dia sombong maka dikatakan kepada malaikat : rendahkankan dirinya." (HR. Thobroni dan dihasankan al-Albani dalam asy-Shohihah : 538).

5.  Al-Mas’alah (meminta-minta / mengemis)
Meminta-minta adalah pekerjaan hina dan nista yang dibenci dalam Islam, dan barangsiapa yang menjadikan pekerjaan ini sebagai suatu profesi untuk menumpuk harta dan memperkaya diri, maka Allah akan menjadikan dirinya terjatuh dalam lembah kemiskinan dan selalu dalam kekurangan.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Alloh bukakan untuknya pintu kefakiran." (HR. Ahmad dan dishohihkan al-Albani dalam shohih at-Targhib :2462)

Selain balasan yang disegerakan di dunia berupa kemiskinan, perbuatan ini juga sudah disiapkan adzabnya pada hari Kiamat.
"Barangsiapa meminta-minta manusia untuk memperkaya diri, maka sebenarnya dia meminta bara api." (HR. Muslim)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
"Tidaklah salah satu di antara kalian selalu meminta-minta kecuali dia akan bertemu Alloh pada hari kiamat sedang wajahnya tidak berdaging." (HR. Bukhori : 1405 dan Muslim : 2443)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Madarij as-Salikin : ”Hukum asal meminta-minta adalah haram kecuali dalam kondisi darurat.”


6.  Memutus silaturahim, khianat dan berdusta.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah sebuah dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya di dunia dan juga disimpan di akhirat dibandingkan dosa memutuskan silaturrohim, khianat, dan juga berdusta, dan sesungguhnya amalan ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah menyambung silaturrohim, sesungguhnya dengan silaturrohim keluarga akan bahagia, harta akan melimpah dan jumlah keluarga akan bertambah, jika mereka saling menyambung tali silaturrohim." (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 5591)

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
"Tali silaturrohim bergantung di Arsy, kemudian ia berkata : Barangsiapa menyambungku maka Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskannya, maka Alloh akan memutuskannya." (HR. Muslim : 6683)

 7.  Berprasangka buruk kepada Allah
Su’udzon atau berprasangka buruk kepada Alloh merupakan sifat tercela yang dapat mengakibatkan seseorang pesimis, takut, cemas dan khawatir dalam mengarungi kehidupan, serta membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

Orang yang berprasangka buruk kepada Allah, dikhawatirkan Allah akan merealisasikan apa yang ia sangka dan Allah menyegerakannya di dunia, hal ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
"Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepadaKu, jika ia berprasangka baik maka baginya kebaikan, dan jika ia berprasangka buruk maka baginyalah keburukan." (HR. Ahmad dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 4191)

Dari sini, maka wajiblah bagi kita kaum muslimin untuk berprasangka baik kepada Alloh sehingga kita mendapat kebaikan tadi.

8.  Membongkar aib saudaranya seiman dan menuduhnya
Termasuk dalam dosa yang disegerakan balasannya di dunia adalah dosa ghibah, perbuatan dosa yang Allah perumpamakan dalam al-Qur’an dengan memakan daging bangkai saudara kita, sebagaimana yang difirmankan :
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurot : 12)
Dan balasan yang disegerakan bagi para pengghibah adalah Allohpun akan membeberkan aibnya di mata manusia. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Janganlah membeberkan aib kaum muslimin dan janganlah mencari-cari kesalahan mereka, barangsiapa melakukannya maka Alloh akan mencari-cari aibnya dan Alloh akan membeberkannya (di hadapan manusia)." (HR. Tirmidzi : 2032)
Dan Allohpun menyegerakan adzab yang pedih di dunia bagi para penyebar gosip/berita dan tukang fitnah. Alloh Ta’ala berfirman :
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. an-Nur : 19)
Alloh Ta’ala berfirman juga :
"Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik yang lengah (untuk berbuat dosa) lagi beriman (berbuat zina), mereka terlaknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar." (QS. an-Nur : 23)

9.  Riya’
Riya’ merupakan amalan yang paling ditakutkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpa para umatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
”Sesungguhnya amalan yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil”, mereka bertanya, ”Apa syirik kecil itu ya Rosululloh ?” Beliau menjawab, ”Riya’”. (Dishohihkan al-Albani dalam asy-Shohihah : 951)
Maka tidaklah heran bila Alloh Ta’ala menyegerakan balasan orang yang melakukan riya’, hal ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
"Barangsiapa melakukan amalan supaya didengar dan dilihat manusia maka Allohpun akan menampakkan niatnya (di hadapan manusia)." (HR. Al-Bukhori : 6134, Muslim : 7667)

10.  Riba.
Riba merupakan dosa besar yang Alloh dan RosulNya menyatakan perang terhadap pelakunya, yang mana tidak ada dosa yang Alloh dan RosulNya menyatakan perang terhadap pelakunya kecuali dosa riba. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam al-Qur’an :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alloh dan RosulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (QS. Al-Baqoroh : 278-279).

Dan Allohpun akan menyegerakan balasan bagi pelaku riba, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Jika zina dan riba telah tampak pada suatu daerah maka penduduknya menghalalkan adzab Alloh turun atas mereka." (HR. Thobroni dalam al-Kabir dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 1859)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah seseorang membiasakan riba kecuali Alloh membalasnya dengan kekurangan." (HR. Ibnu Majah : 2279 dan dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ :5518)
Dan para pelaku riba akan mendapat laknat dari Alloh Ta’ala, hal ini sebagaimana yang ditegaskan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
"Alloh melaknat pemakan riba dan juga pemberinya (dua pihak yang melakukan transaksi riba), saksinya dan juga juru tulisnya." (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 5089)
sedangkan makna dari laknat sendiri adalah dijauhkan dari rahmat.

11.  Berhutang dengan niat tidak membayar 
Hutang merupakan perkara penting yang harus kita perhatikan karena hutang bisa menghalangi seseorang masuk surga, hal ini sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 
"Sesungguhnya saudara kalian tertawan di pintu surga dikarenakan hutangnya." (Dishohihkan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ : 1550)

Allohpun menyegerakan balasan bagi orang yang berhutang dengan niat tidak membayarnya dengan menyulitkan dirinya untuk melunasi hutangnya sebagaimana yang ia inginkan sendiri, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa mengambil harta manusia dengan niatan mengembalikannya, Alloh akan melunasinya dan barangsiapa mengambilnya dengan niat merusaknya Allohpun akan merusaknya." (HR. Al-Bukhori : 2257)

Demikian telah kami paparkan secara singkat, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca dan kami sebagai penulis, Aamiin..

Dirangkum dari: Majalah Adz-Dzakhiirahvol. 9 no. 2 edisi: 68. 1432/2011
Share:

Categories

About Me

About Me
Seorang Pemuda yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Mengisi blog dengan kicauan curhat yang sedikit diselipi dengan dakwah. . , click here →

Find Me On: