Blog yang berisi dengan Curhatan yang diselingi dengan Dakwah. Karena Penulis Blog ini merupakan orang yang memiliki latar belakang seorang Da'i

Minggu, 15 Oktober 2017

Kisah Malin Kundang (Extended)


Pada zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga miskin di daerah pesisir pantai. Si ayah bekerja dengan mengikut kapal-kapal para pedagang untuk mencukupi kehidupan mereka. Keluarga itu memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil, bernama Malin Kundang. Malin Kundang termasuk anak yang rajin, dia membantu setiap pekerjaan ibunya untuk meringankan pekerjaannya. Sehingga ibunya sangat menyayangi Malin Kundang.

Hingga pada suatu hari, sang ayah pergi berlayar. Namun setelah hari itu sang ayah tak terdengar lagi kabar beritanya. Sudah sekian tahun berlalu, ibu malin kundang kini bekerja keras seorang diri untuk menghidupi dirinya dan membesarkan si Malin. Melihat hal itu, malin kundang yang masih belia merasa sangat kasihan pada ibunya. Dia bertekad untuk bekerja, merantau dan kelak pulang membawa harta yang banyak untuk ibunya.

Hingga pada suatu hari, ada sebuah kapal yang cukup mewah berlabuh. Seperti biasa, malin segera berlari ke kapal bersama para pekerja angkut, karena si malin memang bekerja sebagai kuli panggul bagi para pedagang untuk membantu ibunya.

Melihat malin yang begitu rajin, sang nahkoda kapal menjadi sangat tertarik. Dia berniat mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun merasa sangat senang, karena mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang bisa terwujud. Dia langsung berlari pulang untuk meminta izin pada ibunya.

Dengan berat hati, ibunya melepas anak semata wayangnya itu. Ingin rasanya menahan malin untuk pergi, namun karena melihat tekad malin yang begitu kuat, sang ibu tak kuasa untuk melarangnya.
''Hati-hatilah di tanah rantau ya nak. Bersikaplah baik pada semua orang, selalu rendah hati, dan jangan lupa pada Tuhan yang maha kuasa''. Pesan ibu malin.
“Iya mak. Malin akan selalu ingat nasehat emak. Kelak malin akan pulang membawa harta yang banyak. Malin akan menjadi orang kaya, sehingga emak tak usah lagi bekerja. Malin pamit mak''. Kata Malin berpamitan di iringi air mata ibunya.

***********

Sudah sekian tahun sang ibu ditinggal oleh Malin sang anak kesayangannya. Sang ibu pun mulai bertambah renta, dan hanya sedikit bekerja untuk makan sehari-harinya, sisanya banyak sebagian tetangga yang sempat membantu. Dia tetap sabar dan selalu mendoakan anaknya yang sudah lama jauh tanpa kabar.

Hingga pada suatu hari, banyak kapal dari luar wilayah yang berlabuh di pelabuhan kampung tersebut dan Malin adalah salah satu dari mereka. Malin berdiri diatas kapal memandang sekitar, sudah sekian lama namun belum terlalu banyak yang berubah. Dia menghela nafas panjang karena akhirnya dia bisa kembali mengunjungi kampung halaman dengan membawa banyak harta.

Dari dermaga pelabuhan ada seorang pria yang mengenal Malin, dan kemudian dia berteriak, sambil melambaikan tangan.
“Maliiiiiiiiiiiiin!… Ini aku Suprapto temen SDmu!.”
Malin menengok kebawah dan melihat seorang pemuda berpakaian lusuh.
“Hai Prapto, kamu sudah tambah besar aja. Kamu lihat ibuku? aku rindu padanya.”
“Ga usah berlebihan, kamu aja tambah ganteng semenjak merantau. Ibumu sedang di rumah, sebentar aku panggilkan, dia pasti bangga melihatmu.”  Prapto pun langsung berlari kerumah ibu Malin.

Sesampainya di rumah, Prapto langsung memberitahukan kepulangan Malin kepada ibunya.
“Tante, Malin sudah pulang dari rantau, dia menaiki sebuah kapal besar dan dia semakin gagah dan tampan.” Ujarnya
“Yang benar saja nak?!, tante hampir kena serangan jantung gara-gara kamu ngagetin. Sekarang dia dimana?” Ibunya terkejut dan bahagia
“Dia masih di pelabuhan, tante kesana duluan ya saya mau manggil Marni pacarnya Malin.”

Sang ibu langsung menuju ke kapal terbesar di Pelabuhan itu. Dia melihat seorang pria gagah dan tampan turun dari kapal tersebut, dan langsung memanggilnya.
“Malin anakku, sekarang kau sudah sukses nak, ibu bangga padamu.” sambil menangis
Pria tersebut melihat kearah sang ibu yang sudah tua, lusuh, dan kurang terawat tadi, Kemudian dia berkata.
“Kamu siapa? aku tidak mengenalmu. Aku tidak punya ibu sepertimu, ibuku orang kaya raya di pulau seberang.” Ujarnya sinis

Sang ibu langsung patah hati dan hampir terkana serangan jantung. Kemudian tanpa pikir panjang dia langsung mengucapkan kutukan.
“Wahai anak durhaka, aku kutuk kamu dan hartamu menjadi batu bata!.”
Dalam sekejap muncullah petir besar dan pria tadi beserta kapalnya berubah menjadi batu bata.
Kemudian ibu itu berkata.
“Syukurlah nak walaupun ibu kutuk, kamu masih bisa berguna untuk membangun rumah kita yang sudah reot.” Ujarnya sambil bersedih

Kemudian datang Prapto dan Marni dari desa.
“Tante, kenapa tante menangis?.” Tanyanya pada ibu Malin
“Malin sudah durhaka, dan sudah tante kutuk menjadi batu bata.”
“Waduuh, tapi batu bata ini tidak mirip malin yang aku lihat tadi.” Bantah Suprapto
“Lalu ini siapa?.” si ibu bertanya sambil kebingungan

Kemudian keluarlah seorang pemuda memanggul peti harta dari dalam kapal yang sudah menjadi batu bata.
“Ibu, Marni ini aku Malin. Aku membawa banyak harta dari lautan.”
Kemudian mereka berpelukan.
Sang ibu kemudian bertanya.
“Siapakah gerangan orang yang ibu kutuk ini?.” Sambil menunjuk patung batu bata tadi
“Astaghfirullah, itu kapten kapal Malin. Monkey D. Luffy.”
“Biarkan sajalah, biar dia menjadi ikon dari pelabuhan kita.” Suprapto memberikan ide
“IYA.” mereka bertiga serempak mengiyakan ide tersebut

Suprapto melirik peti harta yang dibawa Malin sambil terheran dan kemudian bertanya.
“Ngomong-ngomong ini peti desainnya bagus amat, aku baru melihatnya.”
Kemudian Malin menjawab dengan santai
“Ini adalah harta karun dari zaman bajak laut Gol D. Roger yang disimpan di Pulau Raftel, Grand Line. Yaitu ONE PIECE.”

TAMAT
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

About Me

About Me
Seorang Pemuda yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Mengisi blog dengan kicauan curhat yang sedikit diselipi dengan dakwah. . , click here →

Find Me On: