Bicara soal adat budaya, ada yang
tak ku mengerti dengan tempatku berasal. Ada yang ku kagumi, ada yang tak ku
mengerti, juga banyak yang penuh kontroversi. Memang begitu, mereka menganggapnya sebagai hal biasa
karen telah berlangsung lama dari nenek moyang mereka, di tempat kecil yang
dihuni banyak suku.
Ada sebuah adat yang dilaksanakan untuk memperingati kematian. Dihabiskannya harta sang duka hanya untuk berfoya-foya. Menyembelih hewan adat yang harganya hingga puluhan juta per ekor, dan tidak hanya satu tetapi butuh sekitar 5 hingga sepuluh ekor. Jika tak sanggup pun terpaksa harus mencari pinjaman sana-sini. Membuat orang yang tertimpa duka bagaikan kata "Sudah jatuh tertimpa tangga".
Ada sebuah adat yang dilaksanakan untuk memperingati kematian. Dihabiskannya harta sang duka hanya untuk berfoya-foya. Menyembelih hewan adat yang harganya hingga puluhan juta per ekor, dan tidak hanya satu tetapi butuh sekitar 5 hingga sepuluh ekor. Jika tak sanggup pun terpaksa harus mencari pinjaman sana-sini. Membuat orang yang tertimpa duka bagaikan kata "Sudah jatuh tertimpa tangga".
Terkadang hingga aku berpikir, mereka sanggup mengeluarkan
uang untuk semua hal ini, tapi mengapa aku tidak pernah melihat mereka
menyembelih hewan qurban satupun. Mereka masih peritungan dengan agama, tetapi
kebablasan untuk adat kebiasaan. Dan kesalnya lagi, acara peringatan tersebut
dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut namun tidak diisi dengan doa
melainkan sedikit yang berkenan saja. Selebihnya diisi dengan kemaksiatan
seperti joget bersama hingga pesta arak dan perjudian.
Yang aku suka adalah kerjasama mereka. Apapun suku mereka,
apapun agama mereka kerjasama tetaplah yang paling utama. Ketika ada
pembangunan sebuah masjid di sebuah dusun atau kelurahan, siapapun itu yang ada
dan tinggal di sekitarnya pun akan turut membantu walaupun mereka beragama
Nasrani. Begitupula ketika ada pembangunan sebuah gereja, masyarakat muslim pun
turut memberikan bantuan yang mereka bisa. Dan dalam perayaan apapun seperti
kematian dan pernikahan mereka tetap berdatangan saling membantu.
Disana sebagian wilayah adalah
tempat wisata jika berada di Pulau Jawa. Tempat indah nan kaya hasil alamnya.
Hasil alam dijual sangat murah, seperti ikan hasil tangkapan nelayan dan
sayuran.
Kebanyakan dari mereka masih
memegang teguh adat dari suku mereka masing-masing. Hingga kini ada dua suku
besar yang dikenal dengan kecantikan para gadisnya, namun sebagai maharnya
hanya sedikit lelaki yang mampu untuk meminangnya. Sangat mahal hingga tak
jarang anak-anak mereka masih memiliki status perawan di usianya yang sudah
tua. Mereka adalah suku bangsawan, suku darah biru yang di hormati
0 komentar:
Posting Komentar