Blog yang berisi dengan Curhatan yang diselingi dengan Dakwah. Karena Penulis Blog ini merupakan orang yang memiliki latar belakang seorang Da'i

Minggu, 22 Oktober 2017

TANTANGAN 4

Bicara soal adat budaya, ada yang tak ku mengerti dengan tempatku berasal. Ada yang ku kagumi, ada yang tak ku mengerti, juga banyak yang penuh kontroversi. Memang  begitu, mereka menganggapnya sebagai hal biasa karen telah berlangsung lama dari nenek moyang mereka, di tempat kecil yang dihuni banyak suku.

Ada sebuah adat yang dilaksanakan untuk memperingati kematian. Dihabiskannya harta sang duka hanya untuk berfoya-foya. Menyembelih hewan adat yang harganya hingga puluhan juta per ekor, dan tidak hanya satu tetapi butuh sekitar 5 hingga sepuluh ekor. Jika tak sanggup pun terpaksa harus mencari pinjaman sana-sini. Membuat orang yang tertimpa duka bagaikan kata "Sudah jatuh tertimpa tangga".

Terkadang hingga aku berpikir, mereka sanggup mengeluarkan uang untuk semua hal ini, tapi mengapa aku tidak pernah melihat mereka menyembelih hewan qurban satupun. Mereka masih peritungan dengan agama, tetapi kebablasan untuk adat kebiasaan. Dan kesalnya lagi, acara peringatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut namun tidak diisi dengan doa melainkan sedikit yang berkenan saja. Selebihnya diisi dengan kemaksiatan seperti joget bersama hingga pesta arak dan perjudian.

Yang aku suka adalah kerjasama mereka. Apapun suku mereka, apapun agama mereka kerjasama tetaplah yang paling utama. Ketika ada pembangunan sebuah masjid di sebuah dusun atau kelurahan, siapapun itu yang ada dan tinggal di sekitarnya pun akan turut membantu walaupun mereka beragama Nasrani. Begitupula ketika ada pembangunan sebuah gereja, masyarakat muslim pun turut memberikan bantuan yang mereka bisa. Dan dalam perayaan apapun seperti kematian dan pernikahan mereka tetap berdatangan saling membantu.

Disana sebagian wilayah adalah tempat wisata jika berada di Pulau Jawa. Tempat indah nan kaya hasil alamnya. Hasil alam dijual sangat murah, seperti ikan hasil tangkapan nelayan dan sayuran.

Kebanyakan dari mereka masih memegang teguh adat dari suku mereka masing-masing. Hingga kini ada dua suku besar yang dikenal dengan kecantikan para gadisnya, namun sebagai maharnya hanya sedikit lelaki yang mampu untuk meminangnya. Sangat mahal hingga tak jarang anak-anak mereka masih memiliki status perawan di usianya yang sudah tua. Mereka adalah suku bangsawan, suku darah biru yang di hormati
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

About Me

About Me
Seorang Pemuda yang ingin bermanfaat untuk banyak orang. Mengisi blog dengan kicauan curhat yang sedikit diselipi dengan dakwah. . , click here →

Find Me On: