Kapal barangkat dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta sekitar pukul sepuluh
siang, dengan bantuan kapal pendorong untuk bertolak ke perairan luas. Hanya
membutuhkan waktu sekitar 20 menit pelabuhan sudah tak lagi tampak dari buritan
kapal. Hanya tinggal puluhan kapal tanker dan kapal kargo yang menurunkan
jangkar menanti giliran untuk berlabuh.
Kapal berlayar sejajar lurus dengan pulau jawa yang terlihat memanjang dari
barat hingga timur cakrawala. Sinyal handphone mulai kabur hingga akhirnya
hilang sama-sekali. Yang terdengar hanya tinggal desiran air yang terbelah oleh
moncong kapal, dan beberapa suara gemuruh mesin kapal dari para nelayan yang
sedang menangkap ikan. Pulau jawa pun semakin lama hilang tertutup kabut asap
lautan.
Beberapa jam kemudian pun kapal sudah berada jauh di tengah lautan luas, warna
air laut dibawah kapalpun terlihat semakin gelap. Kami menetap di dek 5, disana
seluruh barang kami letakkan, dan disana pula kami beristirahat. Setelah
merapikan barang bawaan dan tempat tinggal Saya mulai berkeliling untuk
berusaha mengenali seluruh seluk-beluk bagian kapal, menjelajahi seluruh dek,
mulai dari dek paling bawah hingga ke dek delapan paling atas.
Setelah berkeliling beberapa jam akhirnya aku dapat tempat favorit, yaitu di
jendela depan kapal. Tepat didepan kapal hingga mendapatkan terpaan angin yang
lumayan kencang. Sore harinya kami disuguhi dengan pemandangan sunset yang
sangat indah terlihat dari buritan kapal. Lautan pun ikut menguning mengiringi
lenyapnya matahari.
Malam pertama diatas kapal yang bergoyang-goyang seirama dengan benturan ombak,
bermandikan cahaya rembulan yang kebetulan sekali malam itu menjelang purnama.
Lumayan dingin untuk duduk didepan kapal. Meskipun dingin banyak pasangan
lelaki perempuan yang bermesraan ditempat itu. Udara yang dingin ditambah
dengan kegelapan malam membuat mereka merasa aman tanpa ganguan orang lain.
Memang untuk satu tempat itu tidak memiliki penerang seperti bagian kapal
lainya.
Pada akhirnya akupun memutuskan untuk pergi dari situ untuk melihat-lihat seisi
kapal ketika malam hari. Sekitar pukul 20.00 ada satu spot yang sangat ramai
dikunjungi oleh para penumpang. Ruangan penuh lampu dan musik yang kedap suara,
ya itulah tempat hiburan malam untuk para penumpang, Mereka menyebutnya
diskotik. Ada beberapa biduan yang menyanyi dan yang lain bergoyang mengikuti
iramanya. Aku hanya melihat-lihat sekilas setelah itupun keluar lagi karena
tidak tertarik.
siang, dengan bantuan kapal pendorong untuk bertolak ke perairan luas. Hanya
membutuhkan waktu sekitar 20 menit pelabuhan sudah tak lagi tampak dari buritan
kapal. Hanya tinggal puluhan kapal tanker dan kapal kargo yang menurunkan
jangkar menanti giliran untuk berlabuh.
Kapal berlayar sejajar lurus dengan pulau jawa yang terlihat memanjang dari
barat hingga timur cakrawala. Sinyal handphone mulai kabur hingga akhirnya
hilang sama-sekali. Yang terdengar hanya tinggal desiran air yang terbelah oleh
moncong kapal, dan beberapa suara gemuruh mesin kapal dari para nelayan yang
sedang menangkap ikan. Pulau jawa pun semakin lama hilang tertutup kabut asap
lautan.
Beberapa jam kemudian pun kapal sudah berada jauh di tengah lautan luas, warna
air laut dibawah kapalpun terlihat semakin gelap. Kami menetap di dek 5, disana
seluruh barang kami letakkan, dan disana pula kami beristirahat. Setelah
merapikan barang bawaan dan tempat tinggal Saya mulai berkeliling untuk
berusaha mengenali seluruh seluk-beluk bagian kapal, menjelajahi seluruh dek,
mulai dari dek paling bawah hingga ke dek delapan paling atas.
Tempat nongkrong favorit
Setelah berkeliling beberapa jam akhirnya aku dapat tempat favorit, yaitu di
jendela depan kapal. Tepat didepan kapal hingga mendapatkan terpaan angin yang
lumayan kencang. Sore harinya kami disuguhi dengan pemandangan sunset yang
sangat indah terlihat dari buritan kapal. Lautan pun ikut menguning mengiringi
lenyapnya matahari.
Sunset di Umsini
Malam pertama diatas kapal yang bergoyang-goyang seirama dengan benturan ombak,
bermandikan cahaya rembulan yang kebetulan sekali malam itu menjelang purnama.
Lumayan dingin untuk duduk didepan kapal. Meskipun dingin banyak pasangan
lelaki perempuan yang bermesraan ditempat itu. Udara yang dingin ditambah
dengan kegelapan malam membuat mereka merasa aman tanpa ganguan orang lain.
Memang untuk satu tempat itu tidak memiliki penerang seperti bagian kapal
lainya.
Pada akhirnya akupun memutuskan untuk pergi dari situ untuk melihat-lihat seisi
kapal ketika malam hari. Sekitar pukul 20.00 ada satu spot yang sangat ramai
dikunjungi oleh para penumpang. Ruangan penuh lampu dan musik yang kedap suara,
ya itulah tempat hiburan malam untuk para penumpang, Mereka menyebutnya
diskotik. Ada beberapa biduan yang menyanyi dan yang lain bergoyang mengikuti
iramanya. Aku hanya melihat-lihat sekilas setelah itupun keluar lagi karena
tidak tertarik.


mantab jiwaa.. jadi iriii
BalasHapus