Remang-remang
mata mulai terbuka ketika terdengar suara alarm di handphoneku,
tanganku
meraba-raba sekitar kepala untuk mencari sumber suara. Kulihat layar HPku
dan..
"Sudah
pukul 4.00? aku merasa tidurku belum puas" keluhku
Kutarik lagi
selimutku dan kembali kutatap layar HP, kemudian sontak aku terkejut
"Apa?!
hari sabtu?, celaka! aku belum menulis tantangan dari ODOP." aku langsung
bangkit dari
tempat tidurku
"Ya
ampun belum ada ide sama sekali dalam kepalaku."
"Sudahlah
siap-siap sholat shubuh aja dulu" sambil berjalan menuju kamar mandi
Walaupun
sudah berulangkali aku mencuci muka, rasa kantuk tetap tak kemana. Baru
sadar malam
tadi cukup berat kurasakan, ada seorang wanita yang menangis
dihadapanku.
Memang sedari dulu aku paling tidak kuasa melihat tangisan seorang
wanita,
apalagi untuk wanita yang kucinta.
Matahari
sudah mulai meninggi ketika aku kembali dari masjid. Jika bukan hari libur
jam segini
biasanya teman-teman seasramaku sudah menyiapkan sarapan. Hari ini mereka
sibuk dengan
kegiatan masing-masing, dan aku pun berniat mengarang sebuah cerpen
untuk
tantangan dari ODOP.
Aku
mengambil laptop yang kugeletakkan di lantai semenjak kemarin sore.
Menghidupkannya,
lalu aku tinggalkan ke dapur untuk menyeduh teh sebagai teman
duduk.
Beberapa menit kemudian aku sudah duduk didepan laptop ditemani oleh harumnya
aroma teh
Sukabumi yang bisa menenangkan pikiran.
Menit demi
menit aku jalani dengan termenung,
"Mau
bikin cerita apa ya?" tanyaku pada diri sendiri
"Aduuuh,
ko ga ada ide sama sekali nh. Lama-lama bisa kena kick dari ODOP gua"
"Ya
Allah berilah aku ide!"
"Ton!,
Woy!" Terdengar suara memanggilku dari belakang
Aku
menolehnya perlahan dan kudapati ketua asrama menatapku dengan tajam, Lutfi
namanya.
"Daripada
ribut mending ke pasar sana, beli sayur buat masak hari ini." imbuhnya
"Aduh
gimana mau kelar ini tulisan" gerutuku dalam hati
"Ooh
jadi gak mau ya?" sambil mengeluarkan senyum jahatnya setelah memprediksi
kata-kataku
dalam hati
"Eeh
eng.. enggak bang, ampun" jawabku gugup
"Yaudah
berangkat sana, ini uang sama list belanjaannya."
Dan akhirnya
aku pun berangkat meninggalkan lembar kerja yang baru terisi beberapa
kata. Akupun
berharap bisa menemukan sebuah ide yang menarik dijalan nanti.
***
Satu jam
kemudian aku akhirnya kembali dengan membawa beberapa ikat sayuran dan dua
kantung
plastik bahan lauk-pauk. Dengan wajah lelah aku merebahkan diri di depan
pintu.
Maklum saja dengan waktu sesiang ini jika pergi ke pasar kita hampir tidak
akan mendapat
apa-apa.
Setelah itu
kami mengambil tugas masing-masing untuk menyiapkan sarapan. Ada yang
menyiapkan nasi, menggoreng telur, memotong sayur, dan aku sendiri mengiris
bumbu. Begitulah kami hidup di tanah orang, saling bekerja sama dan berbagi
tugas. Mungkin kalian yang membaca ceritaku ini berpikiran bahwa aku akan
berdarah ketika sedang mengiris bumbu, tetapi alhamdulillah kegiatan memasak
kami lancar.
Pukul
sepuluh siang perutku sudah terisi dan inginku melanjutkan untuk menulis. Ide
yang aku harapkan untuk datangpun tak kunjung tiba. Lama sekali aku bertatapan
dengan layar putih kosong yang beru terisi beberapa kata tadi pagi hingga rasa
kantukpun mulai tiba.
"Ah
lanjut nanti siang aja ya" aku berbaring ke sisi kanan dan memejamkan
mata. Dan beberapa saat Kumandang azan zuhur membangunkanku.
Pukul satu
siang aku kembali menatap layar laptopku dan mengetikkan beberapa kata, sebelum
aku melihat notifikasi Whatsapp di HPku. Dan lagi-lagi tulisanku harus
tertunda. Ada sebuah pesan dari kantor untuk merekap hasil penjualan toko kami.
"OMG,
ini tulisan kapan selesainya ya?" keluhku sambil menghela nafas panjang
"Baiklah,
kita kerjakan urusan kantor terlebih dahulu setelah itu tidak boleh ada yang
menggangguku lagi."
Dan akhirnya
aku dapat menyelesaikan tulisanku pada jam empat sore, dengan ide yang baru aku
dapatkan setelah sholat ashar.
Akhirnya jadi juga ya cerpennya. :D
BalasHapusiyah mba :D
Hapus